Menangkap Pesan Tulisan Yudi Latif

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Yudi Latif tidak asing dan sangat popular, kolumnis moralis dan orang yang mengundurkan diri dari jabatan prestisius Kepala BPIP. Kali ini di grup WAG tersebar tulisannya berjudul “Pendidikan Tanpa Mendidik”. Tentu tulisan Yudi Latif selalu memberi pesan moral dan narasi yang mengalir dengan manis.

Dalam tulisannya Yudi Latif menyatakan, “Dunia pendidikan kita melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan sesungguhnya. Paling jauh, yg dikembangkan dalam sistem persekolahan kita hanyalah “pengajaran” (onderwijs) pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan, dengan mata pelajaran yang sarat muatan kognitif”.

Pedapat ini ada benarnya dan tentu tidak semuanya benar. Sudah ada sejumlah sekolah dan guru yang mendidik murid lebih utama dari mengajar. Narasi Yudi Latif di atas adalah identifikasi pada guru “Tukang Ngajar”. Sebelumnya Saya pun sering “mencubit” guru Si Tukang Ngajar. Jadilah guru yang bukan hanya bekerja formalitas mengajar.

Dalam perjalanan menuju SMAN 1 Parungpanjang, Saya mendengar ceramah yang disampaikan KH. Ghazali. Ia mengatakan manusia muslim sertidaknya ada dua jenis dalam hal shalat. Pertama muslim Tukang Shalat dan kedua muslim Ahli Shalat. Tukang Shalat dan Ahli Shalat adalah dua karakter yang ada dalam entitas kaum muslim.

Saya jadi mengidentifikasi Tukang Shalat dengan Tukang Ngajar. Tukang Shalat menurut KH Ghazali hanya shalat formalistik tidak ada dampak besar pada perbaikan perilaku keseharian. Beda dengan Ahli Shalat yang selalu berakhlak baik karena shalatnya tersambung dengan akhlaknya. Tukang Shalat hanya menggugurkan kewajiban shalat. Ahli Shalat membangun karakter baik dalam keseharaian pasca shalat.

Ingatan Saya menjadi tersambung dengan Guru Tukang Ngajar. Guru Tukang Ngajar hanya menggugurkan tugas. Menjadi guru hanya karena mencari kerja, hanya karena pekerjaan, bukan hal lainnya. Menjadi guru hanya menyampaikan informasi terkait mata pelajaran. Ini sangat merugikan dunia pendidikan kita dan tentunya anak didik. Inilah yang menurut Yudi Latif pendidikan yang melenceng.

Kita harus sepakat guru itu harus ahli, profesional dan sangat bangga menjadi guru. Bila menjadi guru hanya karena mencari pekerjaan semata dan bekerja menggugurkan tuntutan kurikulum serta tidak bahagia bertemu murid di sekolah, bahaya! Bahaya bila ada guru hanya bekerja sebagai Tukang Ngajar, tidak cinta dan bangga pada profesi sebagai guru dan tak bahagia bertemu murid

Yudi Latif menuliskan “Anak didik diharapkan berdiri sebagai manusia merdeka yang mengandung tiga sifat: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dapat mengatur diri sendiri”. Perspektif Yudi Latif ini seirama esensinya dengan apa yang digelorakan Mas Menteri saat ini yakni Merdeka Belajar”. Nadiem Makarim sangat memahami apa yang terjadi pada dunia pendidikan kita saat ini dan puluhan tahun yang lalu.

Dalam konsep Merdeka Belajar dan hadirnya Guru Penggerak, menyusul Sekolah Penggerak adalah sebuah upaya agar dunia pendidikan kita tidak “melenceng” dari rel idealismenya. Segera harus bertransformasi. Kementerian Pendidikan dan Ristek mensosialisasikan gerakan transformasi pendidikan. Bila tidak segera bertransformasi bangsa kita akan terpuruk pada masa depan.

Realitas banyaknya guru Tukang Ngajar dan hasil PISA yang menyedihkan dimana kita tersalip Vietnam dan Malayasia sudah disadari oleh Kementerian Pendidikan dan Ristek. Gerakan Merdeka Belajar, Guru Penggerak dan Sekolah Penggerak adalah sebuah rekayasa segera agar dunia pendidikan kita terselamatkan dari jumuditas layanan yang cenderung jalan di tempat.

Nadiem Makarmi membaca bangsa kita dimasa depan akan membaik atau selamat dari persaingan bangsa di dunia, bila generasi saaat ini diperbaiki. Harus hadir di ruang kelas dan sekolah murid yang mendapatkan pembelajaran menyenangkan. Anak didik harus bahagia dan mendapatkan proses pembelajaran holistik, utuh, kaffah mengembangkan potensi afektif, kognitif dan psikomotor murid.

Profile Pelajar Pancasila (PPP) adalah idealitas yang ingin diwujudkan. Guru Tukang Ngajar adalah masa lalu. Dalam program Guru Penggerak dan Sekolah Penggerak pembelajaran harus utuh melahirkan anak berakhlak mulia dan bertakwa pada Tuhan yang maha Esa, kritis, mandiri, kreatif, gotong royong dan berkebinekaan lokal dan global.

Keresahan Yudi Latif, Nadiem Makarim, sama juga dengan kersehan para guru guru hebat yang masih konsisten menjadi pendidik dan pengajar yang baik. Guru-guru favorit, guru idola dan guru teladan bagi anak didik lahir dari guru yang sangat bangga menjadi guru, merasa beruntung menjadi guru, mencintai anak didik dari hati dan menjadi guru adalah kesempatan beribadah terbaik.

Selalu Saya sindir “ibadah terbaik” adalah melayani murid dengan baik sepenuh hati, sehingga kelak mereka menjadi pribadi berkahlak mulia memberi manfaat besar pada kehidupan bangsa. Plus menjemput guru gurunya kelak di pintu Surga. Sekolah adalah “Rumah Ibadah Terbaik”. Seruan ini agar entitas guru sadar bahwa ritual pribadi, kepentingan diri sendiri tidak lebih utama dari mensukseskan hajatan sesama, orang lain dan murid bagi para guru.(*)

Menangkap Pesan Tulisan Yudi Latif

86 thoughts on “Menangkap Pesan Tulisan Yudi Latif

Leave a Reply

Your email address will not be published.