Endang Aminudin Aziz

Masuk Daftar TIME100 AI 2024, Kepala Badan Bahasa Lakukan 4 Hal bersama Jajarannya

 

Majalah TIME memasukkan nama E Aminudin Aziz sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh dalam Kecerdasan Buatan tahun 2024 atau The 100 Most Influential People In Artificial Intelligence 2024 (TIME100 AI 2024).

 

Melalui warta yang dilansir pada 5 September 2024, TIME menuliskan bahwa Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbud Ristek, itu berperan dalam upaya pelestarian atau revitalisasi lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia.

 

Pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 57 tahun lalu tersebut dinilai sebagai tokoh berpengaruh dalam menggawangi program Revitalisasi Bahasa Daerah yang diluncurkan sebagai bagian dari Merdeka Belajar Episode Ke-17 pada Februari 2022.

 

“Berawal dari keprihatinan akan kualitas dan kuantitas bahasa daerah yang mengalami kemunduran, Mas Menteri memberikan arahan untuk melaksanakan program Revitalisasi Bahasa Daerah yang tidak hanya berfokus pada pelestarian bahasa daerah, tetapi juga pengembangan dan peningkatan relevansinya,” ujar Kepala Badan Bahasa E Aminudin Aziz melalui keterangan tertulis, Senin (9/9/2024).

 

Hal tersebut penting dilakukan karena bahasa daerah adalah aset yang tak ternilai bagi bangsa. Sangat disayangkan jika bahasa daerah mengalami kepunahan dan tidak ada “catatan” tentangnya yang tersisa bagi generasi penerus bangsa.

 

Menurut dia, kearifan lokal kita akan hilang beserta pengetahuan yang terekspresikan dan tersimpan dalam bahasa daerah itu.

 

Selain kemampuan bertutur dalam bahasa nasional dan asing, bertutur dalam bahasa daerah bukanlah kampungan, melainkan justru menunjukkan kehebatan.

 

Berangkat dari situasi tersebut, Aminudin tergerak untuk menempuh langkah nyata guna menyelamatkan eksistensi bahasa daerah.

 

“Yang harus kita lakukan adalah mendokumentasikan secara fisik melalui buku-buku bacaan, tata bahasa, kamus, dan sebagainya, baik dalam bentuk cetak maupun berbentuk digital.

 

“Namun, langkah untuk membuat penyelamatan bahasa daerah tersebut lebih luas dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan, harus ada korpusnya terlebih dulu. Korpus yang berisi kumpulan data bahasa dari naskah dan dokumentasi lain serta bahasa lisan berbahasa daerah yang disusun dalam sebuah data raya atau big data,” tuturnya.

 

Maka dari itu, Badan Bahasa menggawangi empat proyek inisiatif untuk merevitalisasi bahasa daerah.

 

Pertama, Kajian Vitalitas Bahasa untuk melihat tingkat daya hidup suatu bahasa yang dipetakan melalui jumlah penutur dan bagaimana pemanfaatan bahasa daerah tersebut.

 

Kedua, Peta Bahasa di Indonesia, yang ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai sebaran geografis bahasa, dialek, dan subdialek.

 

“Contoh sederhananya, ketika orang bicara dengan dialek bahasa daerah tertentu di luar daerahnya, maka akan terlihat sebaran bahasa daerah tersebut di luar asal wilayahnya,” jelas Aminudin.

 

Menurut dia, untuk mempermudah upaya identifikasi tersebut maka kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) merupakan solusinya.

 

“Program ini yang dikembangkan di Badan Bahasa sehingga tidak perlu lagi kita ke lapangan menggunakan manusia yang datang dengan biaya mahal. Selama orang punya gawai dan terhubung ke internet, orang di daerah tertentu bisa memasukkan datanya, misalnya berupa rekaman dan akan terdeteksi melalui AI,” terangnya.

 

Ketiga, AI juga bisa digunakan untuk penerjemahan bahasa. Menurut dia, jika sudah tersedia big data atau data raya dan sudah ada korpus (kumpulan ujaran) dalam berbagai bahasa daerah, masyarakat bisa dengan mudah mengetahui arti dan mempelajari berbagai bahasa daerah. Misalnya, penggunaan bahasa daerah populer di suatu wilayah.

 

“AI ini bisa memberikan penjelasan. Korpus ini yang sedang kita bangun bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan para ahli teknologi kecerdasan buatan. Semakin banyak korpus dan data raya maka semakin pintar mesinnya (AI). Mesin ini bisa memberikan penjelasan sesuai konteksnya,” imbuhnya.

 

Keempat, Badan Bahasa akan merintis pengujian kompetensi berbahasa daerah dengan dukungan AI. Seperti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang ada tes tulisnya, pengujian kompetensi berbahasa ini bisa dilakukan melalui dukungan AI.

 

Ketika banyak orang yang ikut tes dalam jumlah tertentu, cukup AI yang menilai. Sebab, jika pengujian dilakukan secara manual, membutuhkan sumber daya, waktu, dan biaya yang besar.

 

“Kami sedang pikirkan bagaimana melengkapi sumber data berupa tata bahasa daerah yang baku untuk bahasa daerah tertentu, misalnya bahasa Jawa. Langkah awal adalah membangun tata bahasa yang benar, lalu mengembangkan AI-nya secara paralel,” ucap Aminudin.

 

Aminudin pun menegaskan komitmennya bersama seluruh jajaran Badan Bahasa untuk terus mengawal implementasi proyek berdasarkan skala prioritas.

 

Selain melibatkan Perpusnas di mana Aminudin juga menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Kepala Perpusnas, Badan Bahasa juga menggandeng pakar dari perguruan tinggi dan sektor swasta yang memiliki kesamaan visi guna menyukseskan berbagai program prioritas.

 

Untuk diketahui, revitalisasi bahasa daerah harus dilakukan mengingat ada 718 bahasa daerah di Indonesia yang sebagian besar kondisinya mengalami kemunduran, kritis, bahkan terancam punah.

 

Sasaran dari revitalisasi bahasa daerah ini adalah 1.491 komunitas penutur bahasa daerah, 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah, 1.175 pengawas, serta 1,5 juta siswa di 15.236 sekolah.

 

Badan Bahasa mengeklaim bahwa sasaran ini telah tercapai dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Masuk Daftar TIME100 AI 2024, Kepala Badan Bahasa Lakukan 4 Hal bersama Jajarannya”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2024/09/10/111012871/masuk-daftar-time100-ai-2024-kepala-badan-bahasa-lakukan-4-hal-bersama?page=all#page2.

Endang Aminudin Aziz
Tagged on: